Pada tanggal 9 Juli 2021, Kognisi berkolaborasi dengan Kompas mengadakan webinar mengenai Subscription Model As The Future Of Digital Media, yang berisi tentang bagaimana model subscription (langganan) sebagai masa depan bisnis media digital. Webinar kali ini diadakan khusus untuk internal Kompas Gramedia dan menghadirkan satu narasumber yaitu Titus Kitot yang menjabat sebagai General Marketing Manager di Harian Kompas dan dimoderatori oleh Tarrence Palar yang menjabat sebagai Brand Communications Manager di Harian Kompas.

 

Webinar dimulai dengan penjelasan oleh Titus Kitot mengenai bagaimana awal mula Kompas mulai merambah ke dunia subscription yang sudah dipersiapkan sejak tahun 2015. Di mana di Rapat Kerja (Raker) Harian Kompas di 2015 terdapat mandat walau Kompas sudah memiliki media daring, Kompas.com, selanjutnya dirasa juga perlu memiliki platform digital yang erat dengan platform cetak. Bahwa Harian Kompas akan melanjutkan jurnalismenya di platform digital dan menemukan model revenue stream yang baru. Pada tahun 2015 tersebut, di Indonesia khususnya, belum banyak media yang menggunakan model subscription. Namun jika melihat di luar negeri, media cetak New York Times di Amerika Serikat sudah memakai model subscription sejak tahun 2011. Dari situ, Harian Kompas mulai mempelajari dari berbagai sumber termasuk juga menghadiri seminar-seminar di luar negeri.

 

“Pembelajarannya masih juga, waduh ini bener tidak ya kalo kita masuk kesana (platform digital), bukti-bukti kesuksesannya belum ada, belum banyak. Bahkan termasuk New York Times. Tapi kemudian dari kajian-kajian yang kita pelajari, kemudian dari keyakinan kita, kita akhirnya coba untuk akhirnya masuk kesana dan pimpinan-pimpinan menyetujui kemudian masuklah kesana (platform digital)”. – Titus Kitot

 

Setelah itu tidak kemudian persoalan selesai, muncul banyak tantangan-tantangan untuk merambah dunia digital tersebut. Kurang lebih 2 tahun, tepatnya di tahun 2017 akhirnya terwujud untuk mengeluarkan Kompas.id termasuk juga bisnis modelnya. Kemudian yang juga menjadi catatan adalah bagaimana mengelola konten dihubungkan dengan bisnisnya. Dalam hal tampilan website Kompas.id, semenjak tahun 2017 juga mengalami banyak perubahan, baik dari tampilan konten berita atau news dan gerai hingga paket-paket berlangganannya juga berubah hingga kemudian dianggap sesuai dengan kebutuhan pembaca atau audiens.

 

Saat ini, Harian Kompas dan Kompas.id dapat diakses melalui 3 platform yaitu cetak, desktop web dan aplikasi mobile. Akses terhadap berbagai produk jurnalistik Harian Kompas:

  • Rubrik: Polhukam, Ekonomi, Opini,Humaniora, Nusantara, Metro, Internasional, Olahraga, Tokoh, Gaya Hidup.
  • ePaper: replika digital Kompas cetak
  • Jelajah: liputan serial ekspedisi Kompas untuk mengenalkan Tanah Air. Contoh Jelajah Terumbu Karang, Jelajah Kopi Nusantara, Ekspedisi Wallacea, dan lain-lain
  • Tutur Visual: liputan khas dalam format magazine. Memaparkan sebuah persoalan secara mendalam dan komprehensif dengan pendekatan multimedia berupa foto, video, infografik, dan lainnya.

 

“Seluruh konten dari Redaksi di platform cetak muncul. Ada 40 sampai 45 artikel dari cetak yang dialihkan ke Kompas.id, kemudian ditambahkan lagi sekitar 80an. Jadi total di Kompas.id itu ada 125 artikel yang kemudian bisa dinikmati oleh pembaca. Ada juga ditambahkan newsletter, web push dan app push.” – Titus Kitot

 

Dalam perbincangannya selanjutnya, dijelaskan bahwa terdapat 3 bentuk kerja sama atau partnership di Harian Kompas ataupun Kompas.id, yaitu Loyalty Program, kanal Marketplace dan IP-Based. Loyalty Program adalah partnership yang berbentuk benefit atau reward yang dapat ditukarkan dengan poin oleh anggota penyedia layanan. Contohnya Kompas bekerja sama dengan Telkomsel (program Telkomsel Poin), Traveloka, dan masih banyak lagi. Untuk partnership di kanal marketplace, Kompas.id membuka toko resmi (official store) Harian Kompas di sejumlah marketplace digital. Selain menjual akses langganan Kompas.id, toko resmi tersebut menjual langganan harian Kompas (hanya di Blibli.com), buku Penerbit Buku Kompas dan merchandise resmi dari Kompas seperti kaus, board game, dan lain-lain. Sedangkan bentuk partnership yang terakhir yaitu IP-Based, Kompas.id bekerja sama dengan Universitas, Hotel, Rumah Sakit, Café/Resto, dan Sekolah dengan memberikan akses Kompas.id melalui jaringan WiFi. Komunitas dapat mengakses seluruh konten Kompas.id selama berada dan menggunakan WiFi, dan biaya akses Kompas.id didukung oleh institusi/lembaga tersebut.

 

Lebih jauh Titus Kitot menjelaskan data rinci dari Kompas.id hingga saat ini yang terdiri dari Register Users 1.123.840, Active Users 1.735.934, Subscribers 20.567, B2B Clients 68+, Loyalty Member Partners 10, Digital Store Partners 9 dan Payment Partner 15.

 

“Kalau kita liat irisannya, pembaca Kompas itu irisannya 48% dengan Kompas.id. Yang betul-betul hanya Kompas.id itu 19.7%, artinya itu sesuatu yang baru atau mungkin perpindahan. Ini tentu luar biasa, sambil kita mendapatkan waktu karena ini sekarang cetak masih cukup tinggi revenue-nya.” – Titus Kitot

 

Kemudian Titus menjelaskan bahwa dari semua itu terdapat satu evaluasi bahwa Kompas.id sudah berada di track yang benar, namun perlu akselerasi untuk meraih potensi yang masih terbuka. Dijelaskan lebih jauh, bahwa platform cetak cenderung menurun jika dilihat dari perkembangannya. Termasuk Kompas pun mengalami penurunan dari segi platform cetak. Titus kemudian menjelaskan bahwa menurut data dan penelitian World Press Trends dan WAN IFRA, pertumbuhan pendapatan digital jauh lebih berkembang ketimbang pendapatan dari produk cetak. Dari situ disimpulkan bahwa memang bisnis media ke depan adalah subscription bisnis model. Sedangkan menurut survey Reuters Institute, masyarakat Indonesia yang sudah berlangganan terhadap media cetak daring ada di kisaran 19%, jauh jika dibandingkan dengan Norwegia yang dalam hal ini berada di urutan teratas sebanyak 45%. Amerika serikat sendiri tidak jauh berbeda dari Indonesia yaitu 21%. Artinya orang membeli konten berbayar ternyata sudah mulai sangat berkembang dan ini menjadi harapan dari sisi audiens dan pasar untuk ke depannya.

 

Belajar dari New York Times, selama 10 tahun (2011-2021) mereka menyadari bahwa untuk konten berbayar hanya bisa mengandalkan Quality Journalism. Dapat dilihat bahwa memang harus berbeda, harus ada wow effect yang ditampilkan di konten yang berbayar. Untuk mencapai audiens yang loyal pun juga ada tahapannya, audiens harus terus-menerus didorong agar status akhirnya menjadi pelanggan loyal. Tiap tahap butuh pekerjaan dan inisiatif yang berbeda. Intinya terdapat pada jurnalisme berkualitas tadi, membuat dari non-readers menjadi loyalis dengan juga menggunakan konten, menggunakan elemen-elemen bisnis untuk membuat non-readers menjadi loyalist.

 

Lalu muncul pertanyaan, apa yang harus dipersiapkan kedepannya? Pertama ada testing paywalls, harus bisa mengoptimalkan paywalls, lalu more registration wall dimana seperti Kompas.id saat ini yang tidak menggratiskan semua konten, kemudian memanfaatkan paket-paket yang menguntungkan kedua belah pihak. Kompas.id tentunya berusaha untuk terus mengembangkan model bisnisnya yang secara digital. Inovasi-inovasi yang berbeda juga dipersiapkan sehingga non-readers tadi bisa menjadi loyalist readers yang tentunya akan bermanfaat bagi Harian Kompas. Dan terakhir, ada satu kalimat penutup dari Titus Kitot selaku narasumber dan General Marketing Manager di Harian Kompas yaitu, “Kompas.id bukan sekedar website, Kompas.id merupakan rumah baru untuk semangat jurnalisme dan model bisnis Harian Kompas.”