Oleh Tim BrandComm

Kehadiran pandemi tak menyurutkan semangat untuk merayakan Hari Anak Nasional 2021 secara virtual dari balik layar gawai. Menyambut kegembiraan perayaan spesial ini, Harian Kompas mengajak para orang tua dan anak untuk memeriahkan perayaan ini dengan menghadiri webinar “Hidup Seimbang, Anak Berkembang”: Menyeimbangkan Pertumbuhan Fisik, Mental, dan Sosial Bagi Tumbuh Kembang Anak pada hari Sabtu, 24 Juni 2021. 

Tema ini diangkat atas dasar cerminan realita pandemi yang membawa banyak perubahan di kehidupan sang anak. Oleh karena itu, orang tua sebagai agen pelindung serta #KawandalamPerubahan diharapkan dapat menjadi katalisator sekaligus tameng bagi si buah hati agar dapat selalu gembira dan seimbang fisik, jiwa, dan raganya meskipun hanya di rumah saja.

Selain itu, webinar ini juga selaras dengan tema Hari Anak Nasional 2021 yang bertajuk “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan tagar #AnakPedulidiMasaPandemi.

Pada kali ini, Kompas mengundang dua orang narasumber yaitu Dra. Eunike Sri Tyas Suci, Ph.D., seorang Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta serta Meira Anastasia, seorang Penulis skenario dan aktris yang dikenal akan konten sosial media bertema parenting dan keluarga. Dua narasumber ini akan membagikan pengetahuan serta pengalaman mereka, baik dari segi psikologi klinis, kesehatan mental, serta pengalaman pribadi dalam mengasuh anak di masa pandemi.

Anak-anak adalah makhluk yang penuh akan rasa penasaran. Namun jika tidak diimbangi dengan pengertian dan kedewasaan orang tua, rasa penasaran ini justru dapat menjadi bumerang yang buruk bagi kesehatan mentalnya.

“Problematika mental pada anak tidak sesimpel diare yang dapat dilihat di depan mata,” tutur Bu Eunike. “Dalam memahami masalah mental anak, orang tua dan pengasuh membutuhkan kemampuan yang lebih dalam, dimana hal tersebut dapat dicapai dengan membangun hubungan interaksi dan komunikasi yang lebih intensif dengan anak kita.”

Selain itu, anak-anak pada umur belia juga rawan terhadap miskonsepsi. Ibu Eunike memaparkan bahwa terkadang anak merasa salah paham saat orang tua marah. Mereka berpikir bahwa mereka dibenci, padahal realitanya tidak. Hal ini dikarenakan anak-anak memiliki pemahaman yang lebih sederhana dan belum dapat memproses emosi serta konsep-konsep kompleks. Hal ini tidak berarti orang tua tidak boleh marah. Orang tua harus memberikan klarifikasi bahwa ia marah karena suatu sebab yang berakibat buruk. 

Mengutip dari Undang-Undang Kesehatan Mental, seorang individu yang sehat secara mental adalah mereka yang dapat berkembang secara fisik dan emosional, dapat menyalurkan emosi secara sehat, dan dapat memahami kemampuan dirinya. Individu juga dapat mengatasi tekanan harian atau daily stress dan menjadi bagian dari kehidupan sosial di sekitarnya.

Membahas tentang stres, tentu kondisi work from home dan school from home tidak jauh dari perasaan suntuk serta jenuh yang dialami baik individu dewasa maupun anak-anak. Pada sesinya, Meira Anastasia memaparkan miskonsepsi bahwa anak-anak kurang dapat berkembang saat school from home. Padahal, ketika dijalankan, si kecil ternyata dapat menciptakan coping mechanism yang membuatnya kian mandiri, rajin, dan kreatif meskipun harus sekolah daring.

“Kita jangan meremehkan anak-anak karena mereka juga mengajarkan banyak hal kepada kita,” tutur Meira Anastasia. “Sebagai orang tua, kita terbiasa dengan serba-serbi offline dan hal tersebut membuat kita stres karena perubahan yang drastis. Namun anak-anak kita yang tech-savvy membuktikan bahwa mereka juga dapat thriving dan aktif meskipun di tengah kondisi yang tidak menentu.”

Meira Anastasia juga menekankan pentingnya perubahan mindset dari yang serba offline. Hal yang terpenting bukanlah berangan-angan bagaimana anak dapat bertemu dengan teman-temannya secara langsung saat pandemi, namun yang terpenting adalah beradaptasi dan memastikan bahwa anak dapat tetap bersosialisasi meskipun di rumah saja, baik itu bersama teman, guru, maupun mereka yang paling dekat dengan si kecil yaitu keluarga.

Kegiatan TTS Kompas edisi Hari Anak Nasional 2021 adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan orang tua bersama si buah hati untuk memupuk rasa kebersamaan. Orang tua dapat mulai mengakses TTS secara fisik dan digital melalui klik.kompas.id/ttsbuahhati mulai dari hari Minggu, 25 Juli 2021. TTS edisi Hari Anak Nasional dapat diisi, kemudian diunggah ke Instagram dengan menyertakan foto kebersamaan orang tua dan anak saat mengisi TTS serta takarir atau caption yang menarik bertagar #TTSBuahHati #KawandalamPerubahan dan mention akun Instagram Harian Kompas.

Jadilah bagian dari kemeriahan TTS Kompas edisi Hari Anak Nasional 2021 mulai dari tanggal 25-31 Juli 2021. Sebanyak 10 pengirim karya terpilih akan diumumkan pada Rabu, 11 Agustus 2021 dan pemenang berhak mendapatkan hadiah eksklusif dari Harian Kompas.