(KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG)

Rekam Jejak Bangsa

Pada tanggal 21 Mei 1998 di sudut kompleks gedung wakil rakyat, jurnalis kami merekam tiap gerak dan ucap dari para pejuang reformasi yang menginginkan revolusi pemerintahaan saat itu. Babak baru Indonesia katanya, merekam setiap kata dari birokrat dan meresapi mimik muka dari masyarakat yang duduk papa di pinggir jalan.

Pers pembangunan adalah pers yang harus senantiasa mengendalikan diri, melakukan self censorship, dan memastikan setiap pemberitaan tidak menimbulkan eskalasi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Pers Pancasila adalah pers yang harus senantiasa menekankan pentingnya harmoni antara pers, pemerintah. (Jakob Oetama, 1987)

Sebuah Awal Titik

Berawal dari keinginan dari Jenderal Ahmad Yani, yang mengutarakan keinginannya kepada Frans Xaverius Seda (Menteri Perkebunan dalam kabinet Soekarno) untuk menerbitkan surat kabar yang berimbang, kredibel, dan independen. Kemudian terbentuklah Yayasan Bentara Rakyat yang akan menerbitkan surat kabar Bentara Rakyat. Namun akhirnya presiden dikala itu (Ir Soekarno) memberi komando bahwa surat kabar ini akan diberi nama Kompas yang akan menjadi penunjuk arah.

Dekat Memberi Informasi

Lebih dari 2 juta pembaca dengan pencapaian oplah terbesar mencapai 530.000 eksemplar setiap hari di semua provinsi di Indonesia. Kini Kompas terus tumbuh melihat jauh ke depan untuk menghadirkan informasi terpilih, terverfikasi, dan berkualitas untuk Anda. Kepercayaan dari bangsa Indonesia ini menjadi semangat dan komitmen kami untuk terus menghadirkan informasi yang dekat dengan anda. Kami terus berinovasi untuk menyediakan informasi melalui berbagai media gawai yang ada dalam genggaman anda melalui kompas.id.