Harian Kompas adalah surat kabar Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Kompas diterbitkan oleh PT. Kompas Media Nusantara dan merupakan bagian dari kelompok usaha Kompas Gramedia (KG), yang didirikan oleh PK. Ojong (almarhum) dan Jakob Oetama sejak 28 Juni 1965. Mengusung semboyan “Amanat Hati Nurani Rakyat”, Kompas diharapakan bertumbuh menjadi sumber informasi tepercaya, akurat, dan mendalam. Sebagai media massa, Harian Kompas memiliki visi dan misi untuk “menjadi agen perubahan dalam membangun komunitas Indonesia yang lebih harmonis, toleran, aman dan sejahtera dengan mempertahankan Kompas sebagai market leader secara nasional melalui optimalisasi sumber daya serta sinergi bersama mitra strategis.

Proses lahirnya Kompas adalah seperti proses lahirnya setiap usaha kreatif. Pada mulanya, ide penerbitan harian Kompas datang dari Panglima Angkatan Darat (1962-1965) Jenderal Ahmad Yani, untuk menghadang dominasi pemberitaan pers komunis. Gagasan tersebut kemudian diutarakan kepada Menteri Perkebunan saat itu Frans Seda, yang kemudian menggandeng Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama —dua tokoh yang memiliki pengalaman menerbitkan media cetak.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, dibentuklah Yayasan Bentara Rakyat pada 16 Januari 1965. Nama koran yang semula diusulkan Bentara Rakyat. Namun, atas usul Presiden Indonesia pertama, Bapak Soekarno, nama Bentara Rakyat diubah menjadi Kompas. Kompas secara filosofis bermakna sebagai pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba.

Tahun 1963 Jakob Oetama, P.K Ojong, J. Adisubrata, dan Irawati Foto : Istimewa

Pada edisi perdana, Kompas terbit empat halaman dengan 20 berita pada halaman pertama. Di edisi perdana itu, terdapat enam buah Iklan yang mengisi kurang dari separuh halaman. Pada masa-masa awal berdirinya, Kompas terbit sebagai surat kabar mingguan dengan delapan halaman, lalu terbit empat kali seminggu. Sejak 1969, kiprah Kompas sebagai surat kabar nasional mulai diakui oleh berbagai kalangan.

Perjalanan harian Kompas yang bertujuan menjadi sarana kemajuan Indonesia dengan berpijak pada kemajemukannya tidak selalu mulus. Kompas sempat dilarang terbit dua kali. Pertama, pada 2 Oktober 1965 ketika Penguasa Pelaksana Perang Daerah Jakarta Raya mengeluarkan larangan terbit untuk semua surat kabar, termasuk Kompas. Larangan ini diberlakukan sebagai upaya untuk menyatukan informasi, guna mengurangi kebingungan masyarakat terkait peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang tengah berkecamuk. Kompas diizinkan terbit kembali tanggal 4 Oktober 1965.

Pada 21 Januari 1978, Kompas untuk kedua kalinya dilarang terbit bersama enam surat kabar lainnya. Pelarangan terkait pemberitaan seputar aksi mahasiswa menentang kepemimpinan Presiden Soeharto menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR 1978. Pelarangan bersifat sementara dan pada 5 Februari 1978, Kompas terbit kembali. Saat terbit kembali pada 6 Oktober 1965, tiras Kompas menembus angka 23.268 eksemplar. Zaman berganti. Soekarno diganti Jenderal Soeharto. Pada 1999, setahun sesudah Soeharto dipaksa mundur, tiras Kompas mencapai angka lebih dari 600 ribu eksemplar per hari.