Oleh Sutta Dharmasaputra

”Kompas” yang dilahirkan dengan visi besar, yaitu memberi arah dan jalan dalam mengarungi ”lautan” dan ”hutan rimba”, memiliki tantangan tak ringan. ”Kompas” menyadari harus terus berbenah dan bertransformasi.

Hari ulang tahun selalu diperingati. Sebuah kehidupan berawal dari sana. Dari tiada menjadi ada. Refleksi diri pun menemukan momentumnya. Merenungkan sejauh mana telah berjalan, konsisten menjaga arah, mengoreksi jika bergeser, atau harus berbalik apabila sudah salah arah.

Harian Kompas pada 28 Juni 2021 pun berulang tahun. Berawal dari dering sebuah telepon Letnan Jenderal Ahmad Yani yang kala itu Menteri Panglima Angkatan Darat kepada Frans Seda, Menteri Perkebunan di Kabinet Dwikora I yang juga Ketua Partai Katolik. Yani mengusulkan kepada Seda untuk membuat surat kabar guna mengimbangi informasi yang saat itu sudah banyak yang dipolitisasi.

Yayasan Bentara Rakyat pun dibentuk. Pengurusnya terdiri dari IJ Kasimo (Ketua), Drs Frans Seda (Wakil Ketua), FC Palaunsuka (Penulis I), Drs Jakob Oetama (Penulis II), dan PK Ojong (Bendahara). Semula, harian ini akan diberi nama Bentara Rakyat. Namun, ketika Frans Seda menghadap Bung Karno dan melaporkan nama harian yang akan terbit, Bung Karno mengusulkan nama lain.

”Sambil tersenyum beliau memandang saya. Aku akan memberi nama yang lebih bagus…. Kompas! Tahu, toh, apa itu Kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba!”

 
Setelah dibicarakan dengan Redaksi dan Yayasan, nama Bentara Rakyat yang sudah disiapkan pun diubah. Setelah itu ditentukan sifat harian yang harus bersifat independen, berusaha menggali berita sendiri karena banyak sumber berita saat itu sudah ”diverpolitisir”, mengimbangi secara aktif pengaruh komunis dan kawan-kawannya, dengan tetap berpegang pada kebenaran, kecermatan sesuai profesi dan moral pemberitaan (Helen Ishwara, ”PK Ojong, Hidup Sederhana Berpikir Mulia”).

Digawangi Jakob Oetama dan PK Ojong, Kompas yang bermula dari modal kecil Rp 100.000 dan bekerja di ruang sempit, menumpang di kantor Intisari, terus mengabarkan informasi kepada pembacanya.

Roda mesin percetakan pun terus berputar setiap hari melewati banyak era. David T Hill, Profesor Studi Asia Tenggara di Murdoch University, menyebut Kompas sebagai koran tiga zaman. Didirikan tahun 1965 pada masa Presiden Soekarno, menjadi koran terkemuka pada zaman Orde Baru, bertahan sebagai koran paling prestisius selama era Reformasi.

Era disinformasi

Kini, harian Kompas pun memasuki sebuah era revolusi teknologi informasi. Sebuah era yang memungkinkan siapa pun bisa memproduksi informasi, memublikasikannya, juga menyebarkannya secara masif di platform digital. Informasi membanjir. Ada yang menyebutnya sebagai information overloadinfobesity era, bahkan information explosion era.

Sedemikian melimpahnya informasi, maka kebenaran, kabar bohong, dan berita palsu pun bercampur aduk. Era informasi berubah menjadi era disinformasi.

 

Perkembangan masyarakat yang semakin mengglobal menambah kompleksitas. Mantan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef menyebut, untuk merespons situasi kompleks yang tak terhingga ini, infinitely complex, diperlukan makroskop. Cara kita melihat, memahami, dan bertindak harus dengan cara baru yang merupakan gabungan metode dan teknikalitas yang berasal dari aneka disiplin.

Pandemi Covid-19 yang memorakporandakan seluruh tatanan dengan sangat cepat dan masif membuat situasi menjadi lebih kompleks lagi.

Kompas yang dilahirkan dengan visi besar, yaitu memberi arah dan jalan dalam mengarungi ”lautan” dan ”hutan rimba”, memiliki tantangan yang tidak ringan. Kami pun menyadari harus terus berbenah dan bertransformasi agar bisa menyajikan informasi yang menjawab kebutuhan tersebut.

Meningkatkan kualitas jurnalisme untuk memandu masyarakat mendapatkan informasi yang penting dan inspiratif di era revolusi teknologi informasi serta post truth terus menjadi tekad kami. Kami akan terus berupaya mengembangkan jurnalisme solusi dengan memadukan jurnalisme berkedalaman, jurnalisme data, dan jurnalisme makna.

Baca juga : Hari Pers Nasional, Konvergensi dan Pemulihan Ekonomi Bangsa 

Moto ”Amanat Hati Nurani Rakyat” juga menjadi pengingat untuk senantiasa memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan terwujudnya keadilan sosial. Prof Dr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo Pr saat perayaan 50 tahun Kompas mengingatkan bahwa humanisme transendental dilaksanakan secara nyata dengan menghormati kehidupan, menjunjung tinggi martabat manusia, memperjuangkan kesejahteraan umum, memperluas semangat solidaritas, dan memberi perhatian lebih kepada sesama yang kurang beruntung.

Prof Dr Buya Ahmad Syafii Maarif pun berpesan supaya Kompas tetap berada di jalur sosialisme demokrat untuk bersama-sama dengan kekuatan-kekuatan sepaham berjuang keras tanpa letih demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca juga : Keadaban Digital Masyarakat Kita

Tema Hari Ulang Tahun Ke-56 Kompas melanjutkan tema tahun lalu, yaitu ”Kawan dalam Perubahan”. Kami menyadari, tanpa kepercayaan dan dukungan para mitra dan pembaca, kami tidak bisa berbuat banyak. Karena itu, dengan rasa hormat, perkenankan kami menyampaikan terima kasih.

Perjalanan panjang ini sungguh anugerah dan menjadi bekal untuk menelusuri lorong-lorong waktu berikutnya. Mohon doa restu untuk terus menapaki perjalanan.