Oleh
BENEDIKTUS YURIVITO

Kehadiran media massa di era informasi yang arusnya kian deras saat ini menjadi sangat penting. Untuk itulah, harian Kompas terus berinovasi dengan hadir di berbagai platform. Tujuannya, terus memberikan edukasi kepada publik melalui karya jurnalistiknya.

Dengan semangat itu, Kompas memberikan apresiasi untuk beberapa relasi dan audiensnya yang hingga hari ini tetap menjadi pembaca setia. Apresiasi itu berupa gift box yang berisi suvenir dan Samsung Galaxy Tab S7 SE edisi spesial Kompas.id (KompasTab).

Melalui tablet edisi terbatas ini, harian Kompas ingin memberikan pengalaman imersif terhadap konten jurnalistik berkualitas. Para penerima apresiasi ini nantinya bisa menikmati layanan Kompas.id di Samsung Galaxy Tab dengan akses gratis seumur hidup. Untuk simbolisasi, Harian Kompas mengundang beberapa relasi sebagai perwakilan penerima apresiasi. Acara diadakan di Menara Kompas, Jakarta pada Rabu (20/05/2022).

 

Sejumlah sahabat Kompas berfoto bersama dengan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra (kedua kanan), Wakil Pimred Kompas Tri Agung Kristanto (kanan), Direktur Bisnis Kompas Lukminto Wibowo (ketiga dari kiri) dalam satu acara yang digelar di Kantor Redaksi Kompas, Jakarta, Rabu (20/4/2022). Dalam acara itu Kompas menyerahkan perangkat tablet dan akses Kompas.id seumur hidup.
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO (NUT)
20-04-2022

Mereka yang hadir, antara lain Ketua Dewan Pers 2019-2022 Mohammad Nuh, Ketua Pengurus PBNU Savic Ali, Ketua Umum Persatuan Gereja Indonesia 2000-2005 Pendeta Nathan Setiabudi, founder Experd Consultant Eileen Rahman, travel influencer Tantra Tobing, penggerak literasi Maman Suherman, dan founder Filosofi Kopi dan M Bloc Space Handoko Hendroyono.

Mengambil tajuk Menjadi Lebih Bernas, Harian Kompas ingin mengajak khalayak untuk mulai mengonsumsi informasi yang lengkap dan berkedalaman, terkurasi, serta interaktif. Sehingga masyarakat pun menjadi lebih tercerahkan dan berdampak di berbagai bidang. Hal ini juga sejalan dengan semangat transformasi Kompas yang senantiasa berinovasi dan berkomitmen menghadirkan berita yang berisi dan berkualitas bagi pembaca.

Jembatan Kompleksitas Sosial

Transformasi atau tren media saat ini memang dipengaruhi oleh perubahan dan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Namun, disrupsi digital membuat kecepatan menjadi yang lebih diutamakan daripada kedalaman. Padahal masalah di dunia kian kompleks.

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra dalam sambutannya di acara ini mencontohkan gejolak politik antara Rusia dan Ukraina ternyata memiliki dampak hingga ke pedagang gorengan di Indonesia. Konflik tersebut menyebabkan minyak goreng mengalami kelangkaan.

“Ketika masalah semakin kompleks, tetapi informasi di negeri ini makin sederhana. Hal ini semakin berdampak ke banyaknya penyesatan informasi, bahkan pembodohan. Solusi yang dihasilkan juga akan keliru karena pemetaan masalahnya saja sudah salah. Di situlah jurnalisme seharusnya hadir,” ujarnya.

Harian Kompas pun senantiasa hadir untuk menjadi pembeda di tengah arus informasi yang kian deras. Sutta menambahkan, Kompas ingin memberikan informasi lebih mendalam dan tidak ada bisa ditemukan di mesin pencarian.

Mohammad Nuh pun melihat kompleksitas tersebut. Baginya, kompleksitas sosial saat ini berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan manusia untuk memahami hal itu. Kondisi ini menyebabkan manusia sulit memaknai suatu fenomena sehingga mendorong publik menyederhanakan sebuah masalah.

“Tapi, saat itu disederhanakan, ada ribuan variabel yang harus dibuang. Kalau yang dibuang adalah hal esensial, hilang pula esensi masalahnya. Kompas selama ini mampu menjembatani kompleksitas sosial itu dengan (keterbatasan) kapasitas kognitif kita,” ujarnya.

Nuh menambahkan, kebiasaan menyederhanakan masalah ini salah satunya karena kebiasaan masyarakat mengonsumsi informasi secara singkat. Akibatnya, berita yang nilainya lebih penting kalah bersaing dengan informasi viral di media digital. Kualitas informasi yang dikonsumsi pun terpengaruh.

Agar tetap bisa relevan dengan zaman, media massa tidak hanya sekadar bertransformasi dari sisi medium publikasi saja. Pelaksana Tugas General Manager Litbang Kompas Kristanto Hadisaputro menjelaskan, eksplorasi konten harus terus dilakukan.

“Konten yang menarik dan interaktif penting dihadirkan agar tetap relevan dengan audiens dari berbagai generasi. Maka, riset tentang konten ini akan terus bersambung mengikuti perkembangan zaman,” pungkasnya.

(VIT)